Di saat Indonesia lagi asik dengan persiapan untuk
melaksanakan Pemilu dan Pilkada yang sedang berjalan, nun jauh di negeri
seberang samudera, Amerika Serikat, sedang asyik mem-bully kepala negaranya, Donald Trump. Khususnya oleh
media yang cenderung berimbang terhadap Sang Presiden, mengingat di sana ada
tim oposan pada setiap rezimnya.
Kasus apakah yang menimpa si Presiden nyentrik nan kaya raya
ini? Meski Pak Donald adalah orang yang banyak bikin iri orang lain, atas
kesuksesan duniawinya, berita kontroversi atas kelakuannya tidak pernah habis
untuk mewarnai media massa di sana. Pun pada beberapa hari ini, ramai diangkat
kelakuan nyentriknya pada zaman old, yang kini menjadi bahan asyik untuk
dibicarakan dari level kongres hingga angkringan, kalau ada.
Yang diangkat oleh media massa di sana kini adalah tentang
skandal Trump dengan seorang wanita pemain film panas, sebut saja Kecubung.
Maaf, nama disamarkan meski di sana dibeberkan, dalam rangka menjaga nama baik
Anda. Hmm...
Si Kecubung ini pernah sekali bertemu dengan Pak Donald dan
langsung terjadi sesuatu yang, tentu-kita-tahu-itu, hmmm, one night stand gitu
deh istilahnya. Itu terjadi pada tahun 2006 silam dan kini malah sedang hot-hot
nya bagi media negeri dedengkot kapitalisme tersebut.
Lumrah? Tentu saja lumrah, mengingat paham kebebasan yang
dianut disitu menyebabkan siapapun bisa dan bebas untuk melakukan hal tersebut.
Termasuk si Donald yang satu ini. Tidak heran pula hal ini terjadi di negeri
penuh bencana tersebut, seperti yang pernah terjadi pada beberapa presiden
sebelumnya.
Tapi, tergelitik jemari saya untuk mengetikkan kasus ini dan
berlanjut dengan membaginya ke media sosial. Ada apakah gerangan? Kalau tentang
perselingkuhan pejabat, itu juga terjadi di negeri kita ini. Kalau tentang
konglomerat berselingkuh, juga ada beritanya di sini. Pun konglomerat yang jadi
pejabat terus berubah menjadi penjahat dan berkasus wanita laknat, malah tak
cukup jemari saya menghitungnya.
Bukan dengan si Kecubung yang menjadi bagian paling
menariknya, tapi sisi lain yang saya sendiri tidak menyangka, justru itu yang
ramai dibicarakan. Kalau dengan si Kecubung mah, sudah termasuk rahasia umum,
bahwa Pak Donald pernah melakukan itu, karena pernah diangkat oleh berbagai
media massa di sana, sebelum menjadi Mr. No. 1 USA.
Sebelumnya, Si Kecubung diinformasikan telah menerima sejuta
dolar AS, agar menutup rapat mulutnya mengenai hubungan di antara mereka
berdua. Hmm, sejuta dolar AS itu kan banyak sekali yah. Kalau diganti uang
rupiah, ya sekitar 13 miliar rupiah! Banyak sekali itu...bisa untuk sepuluh
keturunan, kalau makan setiap harinya nasi kucing dua porsi dengan tempe
sepotong atau nasi rames langganan saya yang cukup Rp 3.500 perbungkusnya.
Diamkah si Kecubung atas pemberitaan tersebut? Tigabelas
miliar rupiah, jauh lebih banyak dari seratus juta rupiah untuk menutup mulut
keluarga salah tangkap kasus teroris di negeri ini. Meskinya cukup banget, tapi
nyatanya, si Kecubung tetap muncul ke permukaan setelah sekian lama di kedamaian
menikmati hidup tenang bersama anak angkatnya.
Per-bully-an pun dimulai kepada si Kecubung, bahwa ia pengin
tenar atas pemberitaan tersebut. Khususnya oleh para pengagum Pak Donald yang
telah berhasil memenangkan idola mereka untuk menjadi presiden AS. Si Kecubung
tak gentar. Meski ancaman juga pernah ia terima agar tidak muncul dengan berita
itu.
Si Kecubung berkilah, bahwa ia tetap muncul bukan karena
ketenaran, mengingat dia sendiri sudah pernah tenar pada beberapa tahun yang
lampau. Ia mengakui pemberitaan tersebut bahwa ia pernah punya cerita indah
dengan Mr. President , bukan pula karena kurangnya duit yang ia terima.
Tapi, saya tidak akan memperjelas alasan sesungguhnya dari
si Kecubung ini. Karena bukan itu yang menariknya, kecuali pengakuan bahwa uang
yang ia terima sebenarnya tidak sebesar itu. Tapi hanya 130.000 dolar AS saja.
Yap, “cuma” 1 miliar rupiah saja, bukan 13 miliar rupiah. Nah, dari angka
inilah mulai menarik ceritanya.
Bahwa angka tersebut memang lebih kecil dari yang diberitakan,
bahwa angka tersebut tidaklah seberapa bagi Pak Donald, itu memang faktanya.
Tapi masalahnya adalah, uang tersebut diberikan kepada si Kecubung pada masa
kampanye Pak Donald, tepatnya sebelas hari sebelum Pemilu AS melalui tangan
pengacaranya.
Inilah yang ramai, karena dana tersebut dianggap sebagai
dana kampanye ilegal oleh “The Justice Department and the Federal Election
Commission” (entah terjemahannya apa dalam bahasa kita). Sang Pengacara,
Michael Cohen, mengakui bahwa dana tersebut bukan berasal dari kantong
kliennya, tapi dari dirinya sendiri.
Pak Trevor, mantan pimpinan lembaga tersebut mengatakan,
bahwa ini merupakan kontribusi senilai
130.000 dolar AS oleh Cohen untuk kampanye pak Donald, yaitu sekitar
126.500 dolar AS di atas jumlah yang diizinkan
untuk dia berikan. Dan jika dia melakukan ini atas nama kliennya, sang
kandidat, itu adalah kontribusi yang terkoordinasi, ilegal dan sejenisnya oleh
Cohen untuk tujuan mempengaruhi pemilihan, menguntungkan kandidat dengan
menjaga rahasia ini.
Lantas bagaimana akhirnya? Belum ada finalisasinya. Dikarenakan
berita ini memang sedang ramai dibicarakan di sana.
Dengan ini kita ketahui bahwa kejadian perselingkuhan atas
dasar paham kebebasan tersebut sudah terlampau biasa bagi rakyat negeri itu.
Bahkan bagi posisi orang nomer satu di negeri Paman Sam tersebut. Justru urusan
dana ilegal-lah yang kemudian diangkat dan adanya kecurangan karena tidak
melaporkan dana kampanyenya secara lengkap.
Kejadian ini lagi-lagi menunjukkan bagi kita, betapa
rusaknya AS. Sistem kapitalisme-liberalisme yang mereka agungkan sungguh telah
merusak moral masyarakatnya. Lantas negara dengan kerusakan moral kepala
negaranya inikah yang kemudian diidolakan dan dipuja-puji? Sungguh akal yang
digunakan oleh para pemujanya, tidak lebih baik dari hewan ternak. Balhum
adhollu!
Wallahu a’lam bishowab
[Rofif ar-Rozin]
[Rofif ar-Rozin]

Comments
Post a Comment